Minggu, 12 Agustus 2012

Dongeng Bawang Merah Bawang Putih


Bawang Merah dan Bawang Putih

            Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.
Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.
            Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
            Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
           Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
             Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
            Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
            Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
            Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

           Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.







Red Onion and Garlic

            A long time ago in a village lived a family consisting of father, mother and a beautiful teenage girl named garlic. They are a happy family. Although garlic dad just ordinary traders, but they live in harmony and peace. But one day the mother garlic ill and eventually died. Garlic is very grieved so did his father.
In the village lived a widow who also has a son named Onion. Since the mother died Garlic, Shallots mother often visited the house Garlic. He often brought food, garlic helps tidy the house or simply accompany his father Garlic and chatting. Finally my father thought that garlic may be better if he had married only with the mother Shallots, Garlic is not so lonely anymore.
            With consideration of garlic, then the father is married to the mother Garlic onion. Initially maternal red onion and red onion to the garlic is very good. But over time they begin to look true nature. They often scold garlic and give him a tough job if the father was going to trade Garlic. Garlic should be doing all the housework, while the red onion and the mother just sitting around. Garlic of course dad did not know it, because Garlic is never told.
            Garlic One day my father fell ill and later died. Since then the red onion and mother more powerful against the arbitrary and Garlic. Garlic is almost never at rest. He had to get up before dawn, to prepare the water bath and breakfast for the red onion and mother. Then he had to feed livestock, watering gardens and washing clothes in the river. Then he still had to ironing, cleaning the house, and many other jobs. But Garlic is always doing his work, rejoicing that he hopes one day her stepmother would have loved him like his own child.
           This morning as usual Garlic carry baskets of clothes to be washed in the river. With a little singing him down a path on the edge of an ordinary small forest path. The day was very sunny weather. Garlic immediately wash all dirty clothes he was carrying. Because too much fun, Garlic bahwasalah unaware of the clothes have been washed away. Unfortunately the clothes are washed away her stepmother's favorite shirt. When aware of it, dress her stepmother has drifted too far. Garlic down the river trying to find her, but failed to find it. In desperation, he returned home and told his mother.
"Basic careless!" Snapped the stepmother. "I do not want to know, you just have to find clothes that! And do not dare go home if you have not found it. Understand? "
             Garlic is forced to obey the wishes ibun stepmother. He immediately washed down the river where he was. Mataharisudah began to rise, but Garlic have not found her mother's clothes. He put up his eyes, carefully examining each root panhandle that juts into the river, who knows his mother's clothes caught on there. After stepping away and the sun was leaning to the west, Garlic saw a shepherd who was bathing water buffalo. Garlic then asked: "O my good uncle, is uncle to see the red shirt who drifted through here? Since I had to find and bring him home. "" Yes I had seen my boy. If you chase quickly, maybe you can catch him, "said the uncle.
"Well uncle, thank you!" Said Garlic and immediately ran back down. It was getting dark, Garlic was getting desperate. Soon the night will come, and Garlic. From the distance the light coming from a hut on the banks of the river. Garlic immediately went to the house and knocked.
"Excuse me ...!" Said Garlic. An old woman opened the door.
"Who are you boy?" Asked the old woman.
"My Garlic Nan. Just now I'm looking for my mother's clothes are washed away. And now too late. Can I stay here tonight? "Asked Garlic.
"Sure kid. Are you looking for clothes that are red? "Said grandmother.
"Yes, grandma. What ... grandmother found him? "Asked Garlic.
"Yes. Earlier clothes were stuck in front of my house. Unfortunately, though I liked that shirt, "said the grandmother. "Okay I'll return it, but first you must accompany me here for a week. I have not talked with anyone, how? "Pleaded white nenek.Bawang thought for a moment. Grandma looked lonely. Garlic also feel pity. "Well grandma, I would accompany my grandmother for a week, from grandmothers are not bored with me," Garlic said with a smile.
Garlic weeklong stay with the grandmother. Every day Garlic helps with housework grandmother. Of course the old woman happy. Until finally even been a week, grandma she called garlic.
"Son, have you lived here a week. And I'm glad that you are a diligent and dutiful. For according to my promise that you can bring your mother's clothes to go home. And another thing, you may choose one of two pumpkins this as a gift! "Said the grandmother.
            Garlic initially refused to be rewarded but still forced her grandmother. Garlic finally chose the smallest pumpkin. "I am not afraid to take a big strong," he said. Grandma smiled and Garlic deliver up to the front of the house.

            At home, Garlic handed his stepmother's red shirt as he went into the kitchen to split the pumpkin yellow. Garlic was surprised when the flask was split, inside jewels found to contain gold very much. She screamed and was so excited to tell this wonderful stepmother and red onion langsun greedily grab the gold and jewels. They forced the garlic to tell how he could get the prize. Garlic also tell the truth.

            Hearing stories of garlic, onion and her mother plan to do the same thing but this time the red onion will do. In short onion until finally the old grandmother's house on the edge of the river. Like garlic, onion was asked to accompany him for a week. Unlike an avid garlic, red onions for a week it's just lazy. If anything is done then the result is never good because it has always done poorly. Finally after a week's grandmother allow onions to go. "Should not grandma gave me a pumpkin as a reward for a week with you," asked the red onion. My grandmother was forced to send onions choose one of two pumpkins on offer. Quickly onion take a big pumpkin and without saying thanks he walked away.

           When I got home to his mother immediately onion and pumpkin happily showed he was carrying. For fear of garlic will ask for parts, they sent garlic to go into the river. Then they eagerly split the pumpkin. But it was not gold jewels out of the pumpkin, but venomous animals such as snakes, scorpions, and others. The animals were immediately attacked the shallots and his mother to death. That is the reward of the greedy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar